Pada 14–16 November 2024, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) menyelenggarakan Indonesian International Medical Olympiad (IMO) 2024, sebuah kompetisi bergengsi yang menjadi puncak ajang bagi mahasiswa kedokteran di Indonesia. Acara ini diselenggarakan di Tangerang, Banten, dengan mengusung tema utama GARUDA (Global Arena for Remarkable Unity and Determined Achievements).
Kompetisi tahunan ini mengundang mahasiswa kedokteran dari seluruh Indonesia untuk bersaing dalam enam cabang ilmu kedokteran, yaitu Digestif, Infeksi Tropis, Kardiorespirasi, Muskuloskeletal, Neuro-psychiatry, dan Genitourynary. Pada tahun ini, setiap cabang diikuti oleh 56 tim yang berasal dari 56 universitas di seluruh Indonesia. Delegasi PSKPS FKIK ULM didampingi, Prof. Dr. dr. Triawanti, M.Kes, dr. Alfi Yasmina, M.Kes, Ph.D dan dr. Pandji Winata Nurikhwan, M.Pd.

Peni memulai persiapannya untuk International Medical Olympiad (IMO) 2024 sejak lama, bahkan sejak mengikuti lomba pertama, PINISI QUIZ pada Juli 2023. “Lomba pertama itu memang saya niatkan untuk mempersiapkan materi dan teori, terutama untuk IMO. Tapi persiapan intens baru dimulai pada awal tahun 2024,” ungkap Peni. Ia menambahkan bahwa IMO memiliki banyak aspek penilaian di tiap babaknya, sehingga persiapannya lebih panjang, lebih mendalam, dan lebih intens dibandingkan lomba lainnya.
Namun, karena persiapan yang sudah dilakukan jauh-jauh hari, menjelang IMO, Peni mengaku tak perlu lagi terlalu intens. “Di waktu menjelang IMO, persiapan jadi lebih ringan. Saya hanya perlu mengulang materi-materi lama. Di sisi lain, kuliah dan skripsi tetap jalan seperti biasa,” jelas Peni.
Dalam hal persiapan materi, Peni mengakui bahwa untuk IMO, terutama di sistem kardio-respirasi, harus lebih banyak membaca, karena sumber bacaan utama adalah guideline penyakit yang sering diperbarui setiap tahunnya. “Terutama untuk sistem kardio-respirasi, guideline penyakit selalu berubah. Jadi kita harus selalu belajar ulang setiap kali ada guideline baru. Walaupun tidak banyak yang berubah, tetapi tetap harus menyesuaikan,” katanya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya latihan studi kasus dan OSCE, serta mempersiapkan diri untuk ujian OSPE yang ketat.
“Untuk IMO 2024, khususnya di bagian OSPE, kami dipaksa untuk belajar ulang terminologi Latin untuk anatomi dan histologi, karena aturan penulisan yang ketat, berdasarkan FIPAT,” tutur Peni. Ia pun memberikan saran untuk delegasi tahun 2025 agar mulai mempelajari FIPAT dari sekarang agar lebih siap.
Tahun ini, IMO hanya memiliki dua jenis ujian, OSPE dan OSE, ditambah MCQ di penyisihan dan LCT di final. Tantangan terbesar di OSPE, menurut Peni, adalah mempelajari dengan cermat terminologi dan aturan penulisan yang berlaku. Sedangkan tantangan terbesar di OSCE adalah menghadapi kasus-kasus darurat yang belum pernah dihadapi sebelumnya. “Sebagai seseorang yang belum pernah benar-benar mencoba OSCE dengan setting darurat, ini menjadi tantangan tersendiri,” tambahnya.
Berbicara tentang tim, Peni dan Fathan, yang sudah berpengalaman bersama sejak Medsmotion dan RMO, memiliki pembagian tugas yang jelas. “Saya memegang materi respirasi dan Fathan kardiologi. Meskipun begitu, kami tetap harus menguasai kedua sistem karena ada sesi individu di IMO,” jelas Peni. Kolaborasi yang solid antara keduanya terbukti sukses, karena mereka berhasil membawa pulang medali emas.
Peni juga mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada berbagai pihak yang telah mendukungnya. “Terima kasih kepada Arbor Vitae yang telah mewadahi kami, serta kepada semua pihak yang mendukung kami dari administrasi hingga pendanaan, terutama Abrari Fauzi dan Salwa Amira yang telah membantu kami. Terima kasih juga kepada dr. Alfi Yasmina, M.Kes., Ph.D., sebagai pembina kami, serta pihak dekanat dan Bapak Fauzie Rahman, SKM., MPH atas dukungannya,” ujar Peni dengan penuh rasa syukur.
Ia juga mengungkapkan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat dalam bimbingan intens untuk IMO dan RMO. “Saya cukup terkejut pertama kali mendapat bimbingan intensif ini, karena sebelumnya belum pernah merasakan keterlibatan sebanyak ini. Kami sangat terbantu oleh dokter-dokter dari berbagai bidang, terutama dokter Anwari Delmi yang memberikan arahan berharga dalam persiapan OSCE dan LCT,” tambahnya.
Dalam wawancara ini, Peni berbagi pengalaman pentingnya jam terbang dalam kompetisi seperti IMO. “Senjata terbesar di IMO adalah jam terbang yang tinggi. Jadi, jangan mulai lomba dari IMO atau RMO. Banyak medalis IMO dan RMO sebelumnya adalah orang-orang yang sudah berpengalaman lomba. Pengalaman itu yang membedakan kami di IMO,” ujar Peni. Ia juga menekankan pentingnya mempersiapkan diri lebih detail dan lebih mendalam. “Jangan pernah berpikir ‘ini tidak akan keluar di IMO’. Asumsikan semuanya akan keluar, dan jika kita mempelajarinya sementara orang lain tidak, itu akan jadi keunggulan kita,” katanya.
Mengenai timnya, Peni sangat mengapresiasi Fathan sebagai pasangan yang sangat mendukungnya. “Saya tidak akan bisa mencapai medali emas ini tanpa Fathan. Kami sudah paham dinamika tim, dan saya bisa sepenuhnya mempercayakan materi kardiologi kepadanya, sementara saya fokus pada respirasi. Kami memiliki visi yang sama: membawa pulang medali emas,” ungkap Peni dengan penuh kebanggaan.
Ia mengakui bahwa pencapaian ini cukup mengejutkan. “Saya bahkan tidak tahu kalau ini adalah medali emas pertama untuk ULM. Rasanya lega sekali setelah persiapan yang begitu panjang, dan ini memberikan harapan besar untuk delegasi tahun 2025,” kata Peni. Ia berharap pencapaian ini bukan yang terakhir, tetapi menjadi pembuka jalan untuk pencapaian-pencapaian berikutnya.
Peni menutup wawancaranya dengan pesan yang penuh semangat: “Jangan terintimidasi oleh pencapaian tahun-tahun sebelumnya. Gagal itu normal, dan jangan takut mencoba. Karena pada akhirnya, kegagalan adalah bagian dari proses untuk mencapai yang lebih baik.”
Saat ditanya tentang persiapan menuju IMO 2024, Fathan menjelaskan, “Untuk persiapan, yang pertama kami fokuskan adalah materi. Kami mempelajari semua yang ada dalam silabus, bahkan mencari materi tambahan di luar silabus. Panitia juga memberikan informasi tentang penyakit-penyakit yang kemungkinan akan keluar, serta keterampilan medis yang perlu dikuasai, termasuk penggunaan alat-alat yang digunakan dalam kompetisi. Kami ingin memastikan bahwa persiapan kami maksimal.”
Selain persiapan materi, Fathan juga menekankan pentingnya persiapan mental. “Kami sudah beberapa kali mengikuti lomba sebelumnya, jadi kami sudah cukup terlatih dalam hal mental. Di kompetisi, kadang kita menang, kadang kalah. Tapi yang penting adalah semangat untuk selalu belajar dari setiap pengalaman,” katanya. Fathan juga menyebutkan bahwa meski persiapan IMO cukup padat, terutama menjelang kompetisi, mereka tetap bisa mengatur waktu untuk kuliah dan skripsi. “Penyisihan IMO dan final hanya dipisahkan oleh satu minggu, jadi kami mulai mempersiapkan jauh sebelum masuk semester 7. Saya pribadi sudah mempersiapkan diri selama dua tahun, terutama di bidang kardio,” ungkapnya.
Menjelang tahap kompetisi, Fathan merasa bahwa tidak ada lagi materi baru yang harus dipelajari. “Kami lebih banyak berlatih dan mereview materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Mengenai skripsi, saya tidak ingin menjadikannya beban. Yang terpenting adalah menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu, meskipun tidak harus menjadi yang pertama dalam seminar proposal atau hasil,” jelasnya.
Persiapan untuk kompetisi sendiri sangat menguras waktu dan tenaga. Fathan mengaku sering belajar sampai larut malam atau bangun lebih pagi. “Ada pepatah yang mengatakan, ‘Ketika orang lain tidur, kita berusaha.’ Itu sangat kami rasakan. Kami mengorbankan banyak waktu untuk belajar demi mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Tantangan terbesar selama kompetisi, menurut Fathan, adalah ketatnya seleksi dan persaingan dengan universitas-universitas kedokteran terbaik di Indonesia. “Mulai dari penyisihan nasional hingga final, setiap babak adalah tantangan. Alhamdulillah, kami selalu mendapat nilai tertinggi di setiap babak, dan itu menjadi motivasi kami untuk terus berusaha,” ujar Fathan.
Dalam hal persiapan OSPE dan OSCE, Fathan dan Peni membagi tugas dengan jelas. “Kami masing-masing menyiapkan materi sesuai dengan bidang kami. Kami juga meminta bimbingan dari dokter-dokter senior yang pernah menjadi delegasi agar kami benar-benar siap menghadapi semua kemungkinan,” jelasnya. Fathan juga sangat menghargai dukungan dari pihak kampus dan pembina yang membantu dalam persiapan lomba. “Kami sangat berterima kasih kepada PSKS yang memberikan dukungan penuh, terutama dalam hal pendanaan dan fasilitas. Semua biaya keberangkatan kami ditanggung oleh kampus, sehingga kami bisa fokus pada persiapan lomba tanpa khawatir soal biaya,” tambahnya.
Selain itu, Fathan mengucapkan terima kasih kepada dr. Hendra Wana Nur’amin, M.Sc, SpPD , yang telah meminjamkan alat medis untuk latihan mereka, serta kepada dokter-dokter pembina seperti dr. Alfi Yasmina, M. Kes., PhD dan dr. Anwari Delmi yang telah memberikan ilmu dan motivasi baik secara teori maupun praktikal. “Kami bisa memanfaatkan alat-alat tersebut dengan baik, yang akhirnya membantu kami meraih nilai tertinggi di OSCE dan lolos ke final,” ujar Fathan.
Fathan juga memberikan pesan untuk peserta yang ingin mengikuti kompetisi serupa: “Jangan takut untuk mencoba! Kita tidak akan pernah tahu seberapa hebat kemampuan kita jika tidak mencobanya. Saya sendiri sudah mencoba sejak tahun pertama di FK, meskipun saat itu saya belum sepenuhnya memahami materi seperti aterosklerosis. Namun, jika kita tetap konsisten dan bertahan, hasilnya pasti akan datang.”
Ia juga menekankan pentingnya untuk terus memperbarui pengetahuan. “Ikuti webinar, belajar dari dokter-dokter spesialis, dan manfaatkan semua kesempatan untuk memperdalam ilmu. Usaha yang konsisten tidak akan pernah mengkhianati hasil,” ujar Fathan. Meski tidak selalu menang dalam kompetisi, Fathan menilai bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. “Yang penting adalah kita terus berusaha, karena jika kita sudah berusaha maksimal, pasti ada hasilnya,” tambahnya.
Fathan dan Peni merasa sangat bangga dengan pencapaian mereka di IMO 2024. “Kami sangat senang bisa meraih medali emas, tetapi di sisi lain, kami juga menghadapi banyak tantangan, seperti kesulitan mengatur waktu antara lomba, skripsi, dan ujian blok,” kata Fathan. Namun, ketika akhirnya mereka berhasil menjadi juara pertama, itu merupakan pencapaian yang sangat membanggakan. “Kami merasa terhormat bisa meraih medali emas di IMO, mengingat ini adalah kompetisi yang sangat bergengsi dan sulit. Kami bisa mengalahkan universitas-universitas lain di Indonesia, yang membuktikan bahwa PSKPS Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat mampu bersaing di tingkat nasional,” tambahnya. Menurut Fathan, IMO memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan RMO. “Topik yang dibahas di IMO biasanya lebih mendalam dan lebih rumit. Beberapa penyakit yang dibahas di IMO mungkin tidak ditemukan di RMO, sehingga tingkat kesulitannya lebih tinggi. Ini mencerminkan tingginya standar yang diharapkan di IMO,” jelasnya, menutup wawancara.
Bimbingan dari SC:
- dr. Ridma Irsyam Septiadi
- dr. Gratianus Billy Himawan
- dr. Anwari Delmi
- dr. Rasyid Riddo
- dr. Fidya R. Arganita
- dr. Fransiskus Agmard Marampa
- dr. Desi Rahmawaty
- Albertus Andika Wong Jaya, S.Ked
- M. Dawud Ashari, S.Ked
- Ronald Christian Madika, S.Ked
- dr. Pandji Winata Nurikhwan, M.Pd. Ked.
Bimbingan Dokter Spesialis
- dr. Fauzan Muttaqien, Sp.JP, FIHA
- dr. Intan Yustikasari, Sp.JP, FIHA
- dr. FX Hendriyono, Sp.PK
- dr. Ika Kustiyah Oktaviani, M.Kes., Sp.PA
- dr. Juhairina, MKes., Sp.GK
- dr. Rahmiati, M. Kes., Sp.MK
Farmakologi :
dr. Alfi Yasmina, M. Kes., Ph.D

Caesa, delegasi PSKPS FKIK ULM dalam cabang Genitourinary di IMO 2024, memulai persiapannya dengan seleksi internal kampus dan bimbingan dari dosen ahli, seperti dr. Hermin, Sp.OG, dr. Akmal Fauzi, Sp.U, dan Dr. dr. Eka Yudha Rahman, MKes, Sp.U (K). Meskipun sibuk dengan kuliah dan skripsi, ia memprioritaskan latihan soal dan membaca materi terkait lomba. Metode belajar yang efektif bagi Caesa adalah teknik recall menggunakan Anki. Tantangan terbesar bagi Caesa adalah rasa insecure melihat pesaing dari Universitas top lainnya, namun ia mengatasinya dengan meyakinkan diri untuk terus belajar semaksimal mungkin. Materi yang sulit, seperti Patologi Anatomi dan Mikrobiologi, ia pelajari secara bertahap. Babak SOCA menjadi tantangan baru bagi Caesa, karena di ULM tidak ada sistem tersebut. Caesa mengapresiasi dukungan fakultas dan bimbingan dari dosen-dosen terkait. Pesan untuk peserta IMO 2025, ia menyarankan agar mahasiswa calon delegasi berikutnya tidak merasa insecure dan tetap semangat. Ia juga mengajak mahasiswa kedokteran untuk memilih cabang Uroreproduksi karena bidang ini menarik dan penting.
Dalam wawancara bersama Maryam, ia mengungkapkan bahwa ilmu yang diperoleh selama bimbingan lomba IMO akan sangat berguna ketika ia memasuki dunia praktik klinis sebagai seorang dokter di masa depan. Pembagian materi bersama Caesa memudahkan untuk membatasi topik pelajaran, sehingga materi yang diajarkan menjadi lebih spesifik dan terfokus. Selain itu, Maryam menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dokter dan SC (Scientific Committee) pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk mengajarkan materi mengenai genitourinary, yang sangat berharga bagi persiapannya.
- dr. Hermin Sabaruddin, Sp. OG
- dr. Akmal Fawzi Yusril Umam, Sp. U
- Dr. dr. Eka Yudha Rahman, M. Kes., Sp. U(K)
- dr. FX. Hendriyono, Sp. PK
- dr. Rika Ahyati, Sp. PA
- dr. Winardi Budiwinata, Sp. B, Subsp. Onk(K)
Penulis : Andi Khalisha Absharina
Helmi Faniasa, S.Pd
Program Studi: Kedokteran Program Sarjana
Nama Editor: dr. Nika Sterina Skripsiana, M.Kes
Tanggal Penulisan: 29 November 2024