Delegasi PSKPS FKIK ULM Kembali Berprestasi di IMO 2024 Bidang Neuropsikiatri Setelah 5 Tahun Vakum

Shelly Angelita Sholehah dan Fahdyanoor (Angkatan 2021) Finalist Neuro-Psychiatry IMO 2024

      Pada 14–16 November 2024, delegasi PSKPS FKIK ULM kembali berlaga di ajang Indonesian International Medical Olympiad (IMO) 2024, dan berhasil menorehkan prestasi di bidang Neuro-psychiatry. Setelah lima tahun vakum sejak tahun 2019, tim PSKPS FKIK ULM akhirnya berhasil mencapai babak final di bidang yang dianggap sangat menantang ini. Ada cerita menarik di balik perjuangan mereka untuk bisa kembali berkompetisi dan meraih prestasi di ajang bergengsi ini. Berikut adalah kisah perjuangan delegasi PSKPS FKIK ULM bidang Neuro-pychiatry di IMO 2024.

Menceritakan perjalanan persiapannya, Shelly (Angkatan 2021), salah satu delegasi PSKPS FKIK ULM, mengungkapkan bahwa proses persiapannya sangat panjang dan intens. “Saya sudah memilih bidang Neuropsikiatri sejak tahun pertama dan mengikuti seleksi internal secara berturut-turut. Hingga akhirnya, di tahun ketiga, saya terpilih menjadi delegasi,” ujar Shelly.

Selama proses persiapan, Shelly mempelajari berbagai materi secara mendalam, mulai dari PPDGJ III, DSM V, hingga mempelajari berbagai penyakit psikiatri secara komprehensif. “Saya belajar mulai dari patofisiologi, tatalaksana, hingga prognosis. Selain itu, saya juga mempelajari dasar-dasar psikiatri seperti ego defense, coping mechanism, grief, dan teori perkembangan,” tambah Shelly. Dia juga menggali lebih dalam mengenai anatomi dan fisiologi yang berkaitan dengan kejiwaan.

Untuk memperdalam pemahamannya, Shelly tidak hanya bergantung pada buku teks, tetapi juga mencari referensi dari jurnal-jurnal terbaru. “Belajar saya cukup luas, dan saya berusaha untuk mengambil informasi dari banyak referensi, termasuk jurnal terkini,” jelasnya. Latihan soal juga menjadi bagian penting dalam persiapannya. “Yang paling penting adalah latihan soal, baik soal-soal UKMPPD maupun soal-soal USMLE Step 1. Itu membantu saya mempersiapkan diri menghadapi berbagai jenis soal yang mungkin muncul,” katanya.

Shelly juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan. “Saya sangat dibantu oleh dr. Satti Radja Sitanggang, Sp.KJ, dan dr. Khairiah, Sp.KJ. Dari mereka, saya mendapatkan banyak ilmu dan arahan, mulai dari penyisihan, semifinal, hingga final,” ujar Shelly. Selain itu, Shelly juga menyebutkan pentingnya peran SC mereka, dr. Ilma Fi Ahsani Nur Alaina, yang juga merupakan finalis IMO 2019. “Kami terus dibimbing sepanjang perlombaan oleh SC kami, yang juga memiliki pengalaman bertanding di IMO. Itu sangat membantu untuk menjaga semangat dan fokus kami,” tambah Shelly.

Fahdy (Angkatan 2021), salah satu anggota tim PSKPS FKIK ULM lainnya, berbagi pengalaman mengenai tantangan terbesar yang dia hadapi selama mengikuti seleksi IMO. Menurutnya, tantangan terbesar adalah rasa malas dan putus asa. “Persiapan untuk IMO berlangsung bersamaan dengan persiapan untuk RMO, sekitar 3-4 bulan sebelum lomba, kami sudah melakukan persiapan yang sangat intens,” ujar Fahdy. “Namun, kebetulan, RMO diselenggarakan sebelum IMO, dan sayangnya kami tidak lolos penyisihan. Perasaan putus asa dan lelah langsung muncul, karena setelah kalah di tingkat regional, saya mulai berpikir bahwa di tingkat nasional pun saya akan kalah.”

Fahdy mengungkapkan bahwa semangat untuk mencoba lagi sempat sangat rendah, bahkan hampir seminggu dia berhenti belajar karena merasa putus asa. “Namun, karena IMO adalah kompetisi terakhir di tingkat preklinik, saya memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan berusaha sebaik mungkin,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai tantangan di bidang Neuro-psikiatri, Fahdy menjelaskan bahwa setiap bidang kedokteran memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Namun, menurutnya, bidang Neuro-psikiatri sering dianggap paling sulit. “Setiap bidang memang memiliki tingkat kesulitan masing-masing, tetapi entah kenapa neuropsikiatri sering dianggap yang paling sulit. Hal ini sebenarnya bergantung pada mindset masing-masing,” kata Fahdy. “Tantangan terbesar di bidang neuropsikiatri adalah adanya beberapa jalur dan mekanisme yang tidak diketahui dengan pasti, alias hanya berupa hipotesis. Namun, secara keseluruhan, materi di bidang ini memang sangat menantang.”

Fahdy memberi contoh, “Misalnya, di bidang anatomi, kesulitan baru terasa saat ujian OSPE, karena referensinya menggunakan FIPAT. Anatomi di neuropsikiatri berbeda karena meskipun referensinya sama, materi anatomi untuk neuropsikiatri dipisah dengan materi anatomi sistem lainnya, dan diberi judul ‘Neuroanatomy’, sehingga terasa lebih banyak.”

Fahdy juga mengenang salah satu tahap lomba yang paling berkesan baginya, yaitu saat mengikuti OSCE. “Itu benar-benar momen yang sangat tegang! Biasanya di FKIK ULM saja saya sudah merasa deg-degan, apalagi saat harus ikut OSCE di FK lain yang saya belum tahu ruangannya, letaknya, atau suasananya,” kenang Fahdy. “Dari saat karantina sampai dimulainya OSCE, perasaan tegang itu terus ada. Pada sesi neuro, saya mendapat soal tentang BPPV, dan di psikiatri, saya harus mendiagnosis PTSD. Di stasiun psikiatri, saya sedikit terlambat dalam meyakinkan diagnosis PTSD, karena terlalu lama menganamnesis pasien yang hanya mengeluhkan kesulitan tidur.”

Berbicara mengenai pembimbingnya, Fahdy merasa beruntung mendapatkan dukungan dari dokter pembimbing yang luar biasa. “Untuk bidang neurologi, saya dibimbing oleh dr. Steven, M.Si.Med, Sp.S. Beliau memberikan banyak arahan dan dukungan selama persiapan IMO,” ujarnya.

Selain itu, Fahdy juga sangat menghargai kerjasama dalam tim, khususnya dengan Shelly. “Kerjasama dengan Shelly sangat baik. Untuk soal psikiatri, saya sangat mempercayakan Shelly, karena dia sudah menguasai tiga buku utama: PPDGJ, DSM, dan buku obat psikofarmaka. Shelly memang sangat kompeten dan bisa diandalkan dalam bidang ini,” katanya dengan bangga.

Sebagai penutup, Fahdy memberikan pesan untuk adik-adik penerus yang tertarik mendalami bidang neuropsikiatri. “Setiap bidang kedokteran pasti memiliki tantangan tersendiri. Jadi, jangan cepat merasa terintimidasi ketika mendengar istilah ‘neuropsikiatri’. Meskipun materinya cukup kompleks, di balik kesulitan itu ada banyak hal yang menarik dan sangat seru untuk dipelajari,” ujar Fahdy. “Kesulitan itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran kita. Ketika kita mulai mengerjakan dan memahaminya, kita akan menyadari bahwa tidak sesulit yang dibayangkan.”

 

Penulis                   : Andi Khalisha Absharina

                                  Helmi Faniasa, S.Pd

Program Studi        : Kedokteran Program Sarjana

Nama Editor           : dr. Nika Sterina Skripsiana, M.Kes

Tanggal Penulisan : 29 November 2024

Program Studi Kedokteran Program Sarjana

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat