Menurut World Health Organization (WHO), Rheumatoid Arthritis (RA) memengaruhi sekitar 20% populasi dunia. Prevalensi penyakit ini bervariasi dengan usia, mencapai puncak hingga 20% pada usia di atas 55 tahun. Dengan populasi penderita RA mencapai 355 juta jiwa, bisa disimpulkan bahwa satu dari setiap enam individu di seluruh dunia terkena penyakit ini. Bahkan, perkiraan menunjukkan bahwa angka ini akan terus meningkat hingga tahun 2025, dengan lebih dari 25% penderita mengalami kelumpuhan.
Di Indonesia, RA juga menjadi permasalahan serius. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi RA di Indonesia mencapai 7,3%, dengan angka tertinggi tercatat di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 6,48% (Kemenkes RI, 2018).
Kesehatan sendi adalah faktor penting dalam menjaga kualitas hidup yang optimal. Oleh karena itu, TBM-Cs memilih reumatologi sebagai topik utama dalam seminar nasional tahun ini. Acara ini menjadi kesempatan bagi praktisi medis, mahasiswa kedokteran, dan masyarakat umum untuk memperluas pengetahuan mereka mengenai dunia reumatologi. Seminar ini dilaksanakan pada tanggal 5 November 2023 pukul 08.00 WITA – selesai, dan dapat diikuti baik secara langsung di teater Fakultas Kedokteran Banjarmasin maupun melalui Zoom Meeting. Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan FK ULM Dr. dr. Istiana, M.Kes, dan pembina TBM-Cs Calamus Scriptorius Dr. dr. Meitria Syahadatina Noor, M.Kes.
TBM-Cs mengundang sejumlah pembicara yaitu para ahli di bidang reumatologi yang berbagi pengetahuan, penelitian terkini dan pandangan mendalam tentang topik ini. Para pembicara tersebut adalah Dr. dr. I Nyoman Suarjana Sp.PD, K-R, FINASIM (membahas SLE: Diagnosis and Clinical Management), dr. Dimas Hudy Ariadie, Sp.PD (memberikan gambaran umum tentang Rheumatology, Arthritis Gout: Diagnosis, Clinical Manifestation, dan Prevention), dan dr. Wongso Kesuma, Sp.OT (mengulas Osteoporosis secara menyeluruh).

Beberapa informasi penting yang disampaikan oleh para narasumber meliputi pentingnya vitamin D dalam pengelolaan penyakit autoimun, hubungan antara asam urat dan konsumsi sayuran hijau, serta informasi terperinci tentang SLE.
Penelitian yang mendalam telah membuktikan bahwa kekurangan vitamin D dapat memicu reaksi dalam sistem kekebalan tubuh. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D berkaitan dengan risiko terjadinya penyakit autoimun. Kekurangan vitamin D telah terdeteksi pada pasien yang menderita rheumatoid arthritis (RA) dan diketahui bahwa tingkat kekurangan vitamin D tersebut berbanding terbalik dengan tingkat aktivitas penyakit. Selain itu, kekurangan vitamin D juga diduga berperan dalam proses patogenesis penyakit ini. Pola kekurangan vitamin D juga ditemukan pada pasien dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Pernyataan bahwa “Orang yang sudah memiliki kadar asam urat tinggi dalam tubuh atau yang memiliki riwayat gout cenderung lebih rentan terhadap serangan gout jika mereka mengonsumsi banyak sayuran hijau yang tinggi purin.” ini merupakan pernyataan yang keliru, sebaliknya produk hewan yang ditandai dengan asupan tinggi ikan, daging segar, jeroan hewan, dan produk gandum, berkaitan dengan peningkatan prevalensi hiperurisemia (kadar asam urat).
Dr. dr. I Nyoman Suarjana Sp.PD, K-R, FINASIM menjelaskan tentang SLE yang merupakan penyakit kompleks dan berbagai aspek penyakit tersebut. Diantaranya, pentingnya memahami aktivitas antibodi dengan score 10 yang dapat menunjukkan SLE dengan gejala klinis. Jika penyakit autoimun tidak diatasi maka hal itu dapat memengaruhi keberhasilan terapi penyakit lainnya. Jumlah pasien yang terdiagnosis penyakit ini semakin bertambah setiap tahunnya seiring dengan berkembangnya pengetahuan dokter terkait diagnosis penyakit tersebut.
Selain reumatologi, osteoporosis juga menjadi topik penting yang dibahas. Osteoporosis terjadi ketika keseimbangan antara resorpsi dan formasi tulang terganggu, dan faktor-faktor seperti menopause dapat memengaruhinya. Untuk konsumsi vitamin D diperlukan pengecekan kadar vitamin D terlebih dahulu.
Seminar ini adalah kesempatan berharga untuk memahami lebih dalam tentang reumatologi dan osteoporosis, serta bagaimana menjaga kesehatan sendi untuk meningkatkan kualitas hidup. Dengan memperoleh wawasan dari para ahli, peserta dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi oleh penderita penyakit reumatologi dan osteoporosis, dan bagaimana langkah-langkah pencegahan dan pengelolaan yang efektif (aka/hf/nss).
Penulis : Andi Khalisha Absharina
Helmi Faniasa, S.Pd
Program Studi: Kedokteran Program Sarjana
Nama Editor: dr. Nika Sterina Skripsiana, M.Kes
Tanggal Penulisan: 07 November 2023